MANFAATKAN SAMPAH BASAH


Oleh : H Saban Jr (Pos Kota)*

TUMPUKAN sampah sayur-sayuran terlihat menggunung di sejumlah pasar wilayah Kota Bekasi. Sampah-sampah ini sebenarnya masih berupa sayuran hijau, namun dibiarkan teronggok. Seperti sawi hijau, yang rusak di tepian daunnya, kol bulat, namun luarnya terlihat basah, buah nanas yang bertumpuk-tumpuk di karung dan beberapa jenis sayuran lagi. Semua itu sudah menjadi sampah dan terlihat di lorong-lorong antara lapak.

Tengok saja di Pasar Baru Bekasi, pasar terbesar untuk kawasan ini, tumpukan itu seperti kelompok-kelompok barang bekas yang sengaja di tumpuk.menunggu pengangkutan. Pemandangan itu seakan menggambarkan kondisi pasar di pedesaan atau sekilas terjadipada  zaman dulu, becek, banyak sampah dan pedagang pun menggunakan bambu untuk menggelar dagangannya.

Kota Bekasi memang sudah dicap sebagai kota terkotor, namun begitu upaya untuk memulihkan kota di perbatasan Jakarta ini lambat laun mulai berbenah. Meski di kota ini terdapat lokasi pembuangan akhir sampah, toh tidak membuat beberapa daerah terutama di pasar-pasar, sampah terangkut dengan baik.

Sampah tersebut menjadi pemandangan menjijikkan yang terlihat hampir di seluruh pasar tradisional di Kota Bekasi. Tumpukan sampah hingga melubernya penampungan bak sampah di pasar, mengganggu kegiatan jual-beli di pasar. Warga yang terpaksa ke pasar tradisional, harus menutup hidungnya guna menghindari bau busuk sampah yang dikerubungi lalat.

Mengenai banyaknya tumpukan sampah di pasar tradisional tersebut, Saur Tampubolon, Kepala Dinas Perekonomian Rakyat  Kota Bekasi mengatakan, pembersihan sampah di pasar tidak dapat dilaksanakan secara instan pembersihannya perlu waktu karena melibatkan kesadaran dari para pedagangnya sendiri.

Karena pihaknya sudah menjadwalkan pengangkutan sampah pasar setiap malam, tetapi pedagang tetap saja menumpuk sampah sehingga banyak sampah yang tidak terangkut, “Hanya dari kesadaran pedagang yang rendah,” paparnya.

“Tetapi sebentar lagi kami akan memanfaatkan sampah itu bernilai ekonomis,” ujar Mochtar Mohammad, Walikota Bekasi. Impian, walikota ini memang beralasan karena sejak sepekan lalu sosialisasi pemanfaatan.

Harapan itu bukanlah semata-mata untuk menciptakan kondisi pasar yang bersih dan bebas dari sampah basah. Tetapi yang jelas selama ini sampah pasar sering dijadikan makanan ternak, itu pun jika kondisinya masih baik. “Kalau sudah busuk, hewan apa yang mau?” Tanya Saur  Tampubolong, Kepala Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi.

Disiapkan Mesin

Pengelola Pasar Baru Bekasi di Kecamatan Bekasi Timur, Pasar Kranji Baru dan Pasar Sumber Artha di Kecamatan Bekasi Barat, Pasar Baru Jatiasih di Kecamatan Jatiasih, dan Pasar Bantar Gebang di Kecamatan Bantar Gebang, kini siap mengurangi volume sampah di pasar tersebut.

Salah satunya yaitu dengan mengolah sampah menjadi bahan komposting. Hasilnya, nanti akan dibawa ke Pembuat pupuk kompos di Bantargebang yang merupakan bantuan dari Departemen PU. “Jelas kegunaannya selain untuk pupuk tanaman, juga dapat dijual,” lanjut Mochtar Mohammad.

Program pembuatan sampah pasar menjadi bahan kompos diharapkan dapat mengurangi produksi sampah pasar yang jumlahnya meningkat setiap hari. Nantinya hasil cacahan tersebut diendapkan selama lima hari, kemudian dijemur sampai kering selama lima hari. Setelah itu baru diendapkan lagi dengan campuran zat kimia jenis EM 4. Jika sudah lima hari maka sudah bisa dijadikan kompos.

Setiap 50 kilogram sampah sayuran dari pedagang, mampu menghasilkan kompos sebanyak 30 kilogram dalam 15 hari. Kompos tersebut digunakan untuk memupuk seluruh tanaman yang ada di sekitar jalan-jalan protocol wilayah Bekasi.

Jika pembuatan komposting terus berjalan, maka sampah yang dibuang ke TPA Bantargebang setiap hari makin berkurang. Karena sampah-sampah organik, utamanya dari bekas sayur-mayur dapat dijadikan komposting.

Mesin Pencacah Permudah Pengelolahan

USAHA pengolahan kompos memang masih dilakukan sambil lalu, padahal kalau ditekuni bukan tidak mungkin akan menjadi aset yang menggiurkan . Selain prosesnya mudah terutama karena bahan baku tersedia dan melimpah.

Bahan baku yang melimpah dan apalagi nantinya pasokan dari pasar-pasar tradisionil di Kota Bekasi setiap hari akan masuk ke lokasi pembuatan pupuk kompos di Kelurahan Sumur Batu, Bantargebang.

Mesin pengelola sampah organik menjadi kompos di tempat pembuangan akhir ini, diharapkan ditingkatkan mutunya. “Kalau produski melimpah jelas hasilnya tidak maksimal,” ujar Bagong Sunyoto, Ketua Koalisi PersampahanNasional, yang juga satu anggota tim pengolahan sampah menjadi kompos di Bantargebang.

Target proyek itu menyebutkan, hasil produksi bisa mencapai 25 ton kompos per hari. Tetapi, dalam realisasinya hanya 7 ton atau kurang dari 40 persen. Beberapa mesin pendukung, kata Bagong, rusak pada usia dini. Di antaranya, satu unit mesin pencacah sampah, dan karet penghantar sampah ke dalam mesin telah kendor.

“Padahal, anggaran pengadaan teknologi pengolah sampah itu bernilai Rp 1,3 miliar,” katanya. Masalah lain, lanjut Bagong, biaya operasional pekerja sehari-hari dipangkas dari Rp 500 juta menjadi Rp 250 juta.

Namun nantinya diharapkan setelah program pencacahan di pasar-pasar berjalan, kerja di pabrik akan berkurang. “Nantinya pencacahan tidak di sini lagi, karena kita hanya menerima bahan baku berupa sampah basah yang sudah dicacah,” jelasnya.

Dia berharap apa yang sudah diprogramkan Walikota Bekasi dapat berjalan dengan baik dan tentunya menjadi catatan bagi aparat dibawahnya. “Kalau di bawahnya tidak jalan, maka proyek ini pun tidak jalan,” jelas Bagong.

Walikota Bekasi : Dari Sampah Untuk Pendidikan Gratis

ADA pemandangan baru di sekitar Pasar Baru Bekasi Timur, di bagian belakang pasar sebuah mesin mirip pembangkit listrik dengan beberapa panel dan karet penghubung dengan gir berhubungan satu sama lain.

Beberapa orang terlihat sibuk memasukan sampah bekas sayuran, sesekali seusai bekerja mereka tertawa-tawa. Beberapa petugas sampah pun terlihat santai, mereka tidak banyak membawa sampah pasar ke TPA Bantargebang, karena sebagian sudah dibuat bahan kompos.

“Nantinya hasil dari produksi ini bukan saja menambah penghasilan warga, juga untuk pendapatan daerah,” ujar Mochtar Mohammad, Walikota Bekasi. Angan-angan itu beralasan karena setelah dihitung matematis, penghasilan dari sampah yang diubah menjadi pupuk kompos akan menjadi pemasukan tersendiri.

Nantinya anggaran pendidikan akan diambil dari hasil sampah. “Itu pun kalau berjalan sesuai harapan,” ujar Mochtar yang mengaku pengkajian sudah dilakukan , terutama setelah Departemen PU memberi bantuan mesin. “Mudah-mudahan semuanya lancar sehingga Kota Bekasi tidak lagi bermasalah dengan sampah,” lanjutnya.

Selain itu pemberdayaan masyarakat juga dapat terbentuk dengan sendirinya dan ini sangat penting mengubah prilaku masyarakat dari yang cuek terhadap sampah menjadi peduli dengan sampah.(*)

sumber: http://www.kotabekasi.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: