Mengantisipasi Pelecehan Seksual terhadap Remaja


Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, di tempat umum, di lingkungan keluarga, di kampung, di sekolah, atau bahkan di tempat yang kental dengan nilai moral sekalipun. Dapat membunuh jiwa anak.

Berita mengenai pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap remaja di bawah umur makin sering kita dengar akhir-akhir ini. Prihatin, miris, dan marah bercampur jadi satu setiap kali kita mendengarnya.

Yuni, bukan nama sebenarnya, bahkan hampir pingsan begitu tahu anak gadisnya yang baru 9 tahun mengalami pelecehan seksual dari pemuda tetangganya sendiri. Ia sama sekali tak mengira Odong, juga bukan nama sebenarnya, yang selama ini dikenal baik dan pendiam, tega melakukan tindakan tidak bermoral itu kepada anaknya.

Cerita Ibu Harti lain lagi. Ia begitu geram mendengar pengakuan anak gadisnya, Sri, yang duduk di Kelas 2 SMP. Sri, bukan nama sebenarnya, memang tinggal bersama ayahnya setelah ibu-bapaknya bercerai. Pertimbangannya, sang ayah lebih mampu secara finansial.

Akan tetapi pilihan itu ternyata menjadi petaka. Sri justru menjadi korban nafsu bejat ayah kandungnya sendiri. Cerita lain menimpa Faisal, juga bukan nama sebenarnya, siswa kelas 1 sebuah SMA di Jakarta. Ia menjadi korban pelecehan seksual pelatih futsalnya.

Ketiga cerita di atas merupakan adaptasi dari kejadian sesungguhnya. Dan sebenarnya, masih banyak kasus pelecehan seksual yang lain. Berdasarkan analisis dan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), peristiwa pelecehan seksual yang tidak dilaporkan jumlahnya jauh lebih besar. Istilah kerennya, ini ”fenomena gunung es”.

Apa itu Pelecehan Seksual?

Pengertian pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual dan tidak senonoh yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif: rasa malu, marah, dan tersinggung pada diri korban.

Berdasarkan pengertian di atas tingkat pelecehan seksual dapat dibagi dalam tiga tingkatan. Pertama, tingkatan ringan, seperti godaan nakal, ajakan iseng, dan humor porno. Kedua, tingkatan sedang, seperti memegang, menyentuh, meraba bagian tubuh tertentu, hingga ajakan serius untuk ”berkencan”.

Ketiga, tingkatan berat, seperti perbuatan terang-terangan dan memaksa, penjamahan, pemaksaan kehendak, hingga percobaan pemerkosaan. Sedang pemerkosaan itu sendiri sudah masuk dalam kategori kejahatan seksual (sexual crime).

Berdasarkan definisi dan tingkatan pelecehan seksual ini, peristiwa pelecehan seksual sesungguhnya sangat sering terjadi di sekitar kita. Seorang wanita penumpang Kereta Api Jabotabek mengaku hampir setiap hari mengalami pelecehan seksual apabila kereta api dalam keadaan penuh sesak.

Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, seperti di bus, pabrik, supermarket, bioskop, kantor, trotoar, siang maupun malam. Kasus pelecehan seksual tak pandang usia, jenis kelamin, ras, tingkat pendidikan, latar belakang sosial dan agama.

Selama ini mungkin ada anggapan pelecehan seksual hanya terjadi di kota tertentu, bukan kota kita; kantor tertentu, bukan kantor kita; keluarga tertentu, bukan keluarga kita, dan lain-lain. Anggapan ini jelas keliru.

Pelecehan seksual mulai dari yang ringan hingga berat sangat mungkin menimpa kita dan keluarga kita tanpa kita sadari. Pelecehan seksual bahkan juga bisa terjadi di tempat yang dianggap kental nilai moralnya, seperti di lingkungan sekolah atau pesantren.

Dampak Pelecehan Seksual

Pelaku pelecehan seksual juga sangat beragam. Bahkan pada banyak kasus pelakunya adalah orang yang dekat dengan korbannya. Mulai dari ayah tiri maupun ayah kandung, saudara kandung, paman, sepupu dan kerabat dekat lainnya.

Dampak pelecehan seksual bagi anak lebih dari apa yang bisa kita bayangkan. Stephen J. Sossetti dengan tepat mengatakan bahwa ”dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwanya”. Bagaimana tidak, luka pelecehan itu akan dibawa terus oleh seorang anak hingga ia dewasa, menjadi luka abadi yang sulit dihilangkan.

Korban pelecehan seksual akan mengalami pasca trauma yang pahit. Pelecehan seksual dapat merubah kepribadian anak seratus delapan puluh derajat. Dari yang tadinya periang menjadi pemurung, yang tadinya energik menjadi lesu dan kehilangan semangat hidup.

Pada beberapa kasus, ada pula anak yang menjadi apatis dan menarik diri, atau menjadi psikososial dengan prilaku agresif, liar dan susah diatur.

Awal Mula Pelecehan Seksual

Kita semua berharap pelecehan seksual tidak menimpa keluarga kita. Untuk itu perlu ada benteng pertahanan yang harus dibangun.

Pelecehan biasanya berawal dari sikap toleran terhadap hal-hal kecil. Seorang remaja putri yang senang-senang saja ketika tangannya dipegangi oleh lelaki yang jadi idolanya, adalah awal dari kemungkinan pelecehan seksual. Sikap seperti ini perlu diwaspadai. Tanpa disadari, sikap ”penerimaan” yang tidak sadar itu bisa aja ditafsirkan sebagai kode ”pembolehan” oleh si pria untuk melakukan aksi yang lebih jauh.

Mencegah Pelecehan

Ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghindarkan diri dan keluarga kita dari tindak pelecehan seksual:

Pertama, menyadarkan keluarga kita terutama anak-anak untuk mengenali situasi potensil yang dapat menyeret ke jurang pelecehan (Baca Boks: ”Kenali..”). Yang perlu dilatih adalah, jika ada perasaan agar kita waspada, maka percayai perasaan itu.

Jangan segan dan sungkan membahas masalah pelecehan seksual yang muncul di pemberitaan media massa. Ungkapkan secara tegas sikap kita sebagai orang tua yang tidak menginginkan hal itu terjadi pada keluarga kita.

Latihlah anak untuk dapat bersikap tegas walau mungkin itu bertentangan dengan karakternya. Yakinkan anak bahwa sikap itulah yang dapat menolongnya terhindar dari bahaya. Latihlah juga anak untuk dapat melawan bila berada dalam ancaman pelecehan. Pahamkan bahwa ia ada di pihak yang benar. Jangan takut dan ragu!

Ingatkan anak, jika mengalami pelecehan seksual, jangan diam! Karena diamnya korban dianggap sebagai penerimaan oleh si pelaku, dan biasanya cenderung diulangi. Selain itu, selalu tanamkan pada diri anak bahwa pelecehan yang terjadi bukan kesalahannya.

Hindari tempat-tempat yang rawan, gelap dan sunyi serta jauh dari keramaian. Kalaupun terpaksa harus melewati jalur seram itu, lakukan secara berombongan. Kalau anak pulang malam, usahakan dijemput. Penjemputan adalah hal terbaik yang harus dilakukan demi keselamatan buah hati kita.

Ajarkan pula kepada anak untuk berpenampilan sopan. Baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Penampilan yang seronok dapat membuat penafsiran menyimpang bagi orang lain. Demikian juga perkataan dan tutur kata. Seperti kata pepatah: Bahasa (tutur kata yang kita pakai) menunjukkan kita.

* Isa Azhari

Kutipan:

”Dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwanya, ” ujar Stephen J. Sossetti. Dan luka itu akan dibawa hingga ia dewasa, menjadi luka abadi…

Situasi Potensil yang Menjerumuskan

1. Keluarga yang rapuh. Hubungan kedua orang tua yang renggang dan diperparah dengan kondisi iman yang goyah. Banyak kejadian suami yang kesepian setelah pisah dengan istrinya, justru menyasar ke anak gadisnya karena tidak tahan secara seksual.

2. Keadaan rumah yang sepi. Situasi rumah kosong siang hari, ketika penghuninya ke kantor atau di sekolah juga harus diwaspadai.

3. Aktivitas di malam hari. Kadang ada kegiatan luar rumah yang dilakukan hingga pulang malam hari, seperti lembur, rapat organisasi, olahraga, latihan kesenian, dan lain-lain.

Sumber: edukasia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: