Agar Pintu Pagar Selalu Lancar Dibuka


Pintu pagar yang dibuat sembarangan mengakibatkan daun pintu tidak selalu lancar dibuka. Karena itu, jangan remehkan konstruksinya.
Pada suatu pagi, Pak Toni dengan terburu-buru membuka pintu pagar. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, alias sudah terlambat 15 menit! Terbayang kemacetan yang akan dijumpainya sepanjang jalan menuju kantor. Pak Toni ingin segera bergegas, tetapi daun pintu pagar rumahnya sulit dibuka. Ternyata, bingkai pintu pagar bagian bawah menggesek lantai carport.
Bingkai pintu pagar Pak Toni terbuat dari besi berpenampang siku, yang bidangnya penuh dengan ornamen. Pintu pagar ini terlihat indah, serasi dengan rumah pak Toni yang asri. Tapi sayang, pagi ini pintu itu macet dan tidak mau terbuka.
Ilustrasi di atas sering dijumpai pada pintu dengan jenis bukaan 90o maupun pintu dorong, baik dari material besi atau kayu. Mengapa ini bisa terjadi?
Pentingnya Batang Diagonal
Pintu adalah sebuah bidang yang dapat dibuka dan ditutup, yang merupakan bagian dari panel dinding. Pintu adalah bagian dari jalur sirkulasi dari satu ruang ke ruang lainnya. Memahami fungsinya, maka secara umum pintu harus kuat dan kokoh, mengingat daun pintu sering digerakkan untuk dibuka dan ditutup.
Untuk pintu pagar—yang terletak di luar ruangan—ada syarat tambahan, yaitu harus kuat terhadap pengaruh cuaca. Panas dan hujan mempengaruhi susut kembangnya material pintu pagar. Karena itu, struktur dan material pintu pagar harus lebih kokoh daripada pintu di dalam ruang. Material yang cukup tahan terhadap cuaca adalah besi yang telah dilapis dengan zat anti karat. Bila konstruksi daun pintu cukup kokoh dan engsel dapat berfungsi dengan baik, maka pintu pagar dapat membuka dan menutup dengan lancar.
Secara logika, semakin lebar daun pintu pagar, maka bingkai pintu tersebut harus makin kokoh. Ini karena bingkai pintu berfungsi sebagai struktur utama. Turunnya daun pintu, sebagian besar diakibatkan oleh daun pintu pagar yang terlalu lebar, dan bingkai pintu tidak cukup kokoh menahan berat pintu yang terlalu lebar. Kondisi ini sering menyebabkan terjadinya pergeseran di setiap titik sambungan antara daun pintu dan bingkai pintu. Agar tidak ada pergeseran, sambungan setiap batang pembentuk bingkai pada titik hubung harus memiliki hubungan yang kaku.
Jika pada setiap batang bingkai terjadi hubungan yang tidak kaku, semua bagian daun pintu tersebut akan bergerak, dan akhirnya permukaan daun pintu bagian bawah akan turun.
Contoh hubungan kaku pada setiap batang, baik yang membentuk bingkai pintu pagar atau sebagai elemen pengisi permukaan daun pintu, adalah hubungan las untuk besi. Sementara itu, untuk pintu kayu, perlu adanya pengunci berupa besi siku pada pojok bingkai pintu. Tanpa besi siku pada pojok bingkai pintu, dikhawatirkan bingkai daun pintu akan mudah bergerak.
Daun pintu baik dari besi atau kayu, yang memiliki lebar pintu cukup besar atau memiliki luas permukaan bidang daun pintu yang cukup luas, perlu penguat berupa batang diagonal.

Lebar dan Arah Bukaan
Membuat pintu pagar dari besi boleh-boleh saja, dari kayu pun jadi. Masing-masing bahan memiliki nilai estetika yang bagus, asal serasi dengan gaya rumah. Sekarang, masalahnya berapa lebar daun pintu yang sebaiknya digunakan?
Lebar daun pintu pagar tidak lepas dari bentuk bukaan dan ruang yang tersedia untuk pergerakan pintu pada saat membuka dan menutup.
Jangan sampai lebar pagar 2 meter tetapi pada saat membuka sebagian daun pintu berada di atas jalan umum atau pintu tidak dapat ditutup dan dibuka karena mengenai mobil yang parkir di carport.
Bentuk bukaan juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam menentukan bentuk daun pintu. Jika pintu pagar tidak memungkinkan untuk dibuka selebar daun pintu, maka daun pintu dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Beberapa daun pintu tersebut kemudian dihubungkan dengan engsel-engsel dan menjadi pintu lipat. Lebar ideal daun pintu lipat sekitar 60 – 80 cm.
Mengenai arah bukaan, pilihlah arah yang aman. Dalam artian, jika membuka ke arah luar, tidak mengganggu lalu lintas dan jika membuka ke dalam, tidak menabrak kendaraan yang terparkir di carport.
Biasanya, pintu pagar membuka ke arah luar halaman untuk panjang carport kurang atau sama dengan 5 meter. Ini karena saat mobil sudah berada di dalam carport, pintu tidak dapat ditutup sempurna karena daun pintu terhalang oleh mobil.
Bila ukuran panjang carport lebih dari 5 m, biasanya sudah mengakomodir panjang mobil ditambah lebar daun pintu. Artinya, daun pintu dapat menutup saat mobil parkir di carport.
Pengaku dan Penggantung
Pintu pagar dengan lebar berapa saja dapat digunakan, asal disesuaikan dengan materialnya. Pintu pagar selebar 2 m dan tinggi 1,8 m dapat dibuat dari bingkai bermaterial pipa besi tanpa perlu batang diagonal sebagai pengaku.
Tetapi, bila lebar pintu lebih dari 1 m dengan bingkai pintu dari besi siku, maka daun pintu tersebut harus menggunakan batang diagonal yang berfungsi sebagai pengaku. Hubungan antar batang besi ini menggunakan hubungan las.
Bagaimana dengan pintu pagar dari meterial kayu? Bidang daun pintu pagar dari kayu harus diperkuat dengan batang diagonal untuk mencegah daun pintu “turun”. Bagaimana cara meletakkan batang diagonal tersebut? Batang diagonal ini mengarah pada titik di mana terletak engsel pintu bagian bawah.
Bila sudah terlanjur terpasang, pintu kayu dapat diperkuat dengan memasang batang diagonal di bagian belakang daun pintu dan besi siku pada keempat sudutnya. Hal ini juga dapat diterapkan pada pintu bermaterial besi.
Pada daun pintu yang menggunakan penggantung, maka penggantung akan menarik daun pintu menuju ke tiang ambang tegak. Biasanya pintu jenis ini digunakan untuk pintu kisi atau pintu papan yang mempunyai lebar lebih dari 2 meter pada halaman yang cukup luas. Contohnya pagar model country gate.
Pintu Dorong
Pintu model ini cocok digunakan untuk halaman yang luasnya terbatas. Perlu diingat, pintu dorong perlu pengamanan ekstra sebagai syarat dari pintu pagar. Selain harus dapat bergerak dengan lancar, pintu ini harus dibuat agar daunnya tidak mudah dilepas. Ini karena model dorong berbeda dengan model bukaan 90o, di mana engsel yang berfungsi sebagai pemegang, berfungsi juga sebagai alat untuk memudahkan daun pintu bergerak. Dengan demikian, pintu jenis ini tidak mudah dilepas.
Pintu dorong, selama berdiri di atas roda dan berjalan di atas rel, sudah dapat dibuka dan ditutup. Tetapi pintu ini belum ada pengamannya. Pada saat ditutup, pintu ini dapat diangkat dengan mudah, tentu dengan terlebih dahulu membuka penguncinya. Karena itu, daun pintu perlu diamankan dengan membuat plat penahan yang terletak di bagian atas tiang rel pintu.
Pintu dorong biasanya menggunakan roda di bagian atas dan rel untuk rol penjurus di bagian bawahnya. Jenis pintu ini harus memiliki perangkat penggantung di bagian atas, sehingga perlu dinding pada bagian atas pintu pagar tersebut. (Rita Laksmitasari Rahayu ST. MT. – dosen luar biasa jurusan Arsitektur Universitas Trisakti/http://www.tabloidrumah.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: