Rumah Sebagai Pos Pengeluaran (1)


Membeli rumah membutuhkan perencanaan yang matang. Agar keuangan Anda aman nantinya, lihat dulu kondisi keuangan Anda secara menyeluruh.
Banyak orang merasa bahwa membeli rumah bukan persoalan sederhana. Hal ini wajar, karena ketika membeli rumah, orang tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan, tetapi juga selera dan keinginan. Bagi banyak orang, rumah adalah sumber rasa aman dan nyaman. Sebagian masyarakat, khususnya yang sudah mapan secara ekonomi, menjadikan rumah sebagai simbol status, ukuran kemakmuran, dan sebagai sarana investasi. Apalagi bagi kaum perantau yang belum merasa berhasil jika belum mampu membeli rumah.
Selain kerumitan proses pembelian, masalah yang umum dihadapi pembeli rumah adalah mencocokkan antara kebutuhan, keinginan, dan selera, dengan dana yang tersedia. Pada umumnya kebutuhan atau keinginan orang melampaui kemampuan dananya. Bahkan banyak penduduk Indonesia, khususnya setelah krisis moneter, tidak mampu membeli rumah yang sekadar menawarkan fungsi sebagai tempat berlindung. Walaupun banyak tawaran dari pihak pengembang dengan harga murah, tetap saja banyak yang belum mampu.
Melihat hal ini, dapat dikatakan bahwa kebutuhan rumah merupakan sebuah kebutuhan yang perlu diperhitungkan dalam sebuah pendapatan dan pengeluran seseorang. Selain itu, kebutuhan rumah sebagai kebutuhan papan, memang harus diperhitungkan dalam perhitungan pengeluaran anggaran setiap bulannya.
Anggaran Rumah Tangga
Pengeluaran untuk rumah sebaiknya tidak dipisahkan dari anggaran belanja rumah tangga secara keseluruhan. Dari arti kata, anggaran adalah padanan dari kata budget dalam bahasa
Inggris. Kata budget berasal dari bahasa Jerman yang artinya adalah dompet kecil berisi uang yang siap dibelanjakan. Pada umumnya yang dimaksud dengan anggaran adalah rencana pengeluaran dana setiap waktu tertentu. Anggaran rumah tangga sendiri sebaiknya dibuat berdasarkan pada penghasilan yang siap dibelanjakan (disposable income).
Apa yang dimaksud dengan disposable income? Penghasilan yang siap dibelanjakan atau disposable income adalah semua penghasilan yang diterima oleh setiap orang baik pegawai swasta maupun wiraswata setelah dipotong pajak dan pengeluaran rutin setiap bulan. Penghasilan ini tidak hanya dari gaji maupun laba usaha untuk pengusaha, tetapi dapat bersumber dari penghasilan lain seperti bonus, deviden, komisi, hasil sewa rumah, dan hibah.
Semua jenis penghasilan tersebut, dapat dipisah lagi menjadi dua, yaitu pendapatan yang dapat diandalkan ada atau tidaknya (dependable income) dan pendapatan yang tidak dapat diandalkan seperti bonus dividen, komisi, hadiah dan hibah. Bagi karyawan, gaji bulanan dan tunjangan hari raya adalah pendapatan yang bisa diandalkan. Kalau Anda mempunyai simpanan di bank, maka bunga simpanan adalah jenis pendapatan yang dapat diandalkan.
Seperti diketahui bahwa disposable income merupakan penghasilan yang sudah dikenai potongan pajak. Potongan pajak seringkali dilupakan oleh beberapa orang, sehingga mereka memahami bahwa semua pendapatannya bisa dibawa pulang. Seperti disyaratkan dalam Undang-undang Nomor 17/2000 tentang Pajak Penghasilan, pendapatan adalah termasuk obyek pajak. Peraturan ini tidak berlaku hanya untuk orang pribadi yang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 2.880.000 pertahun.
Selanjutnya, besarnya tarif pajak tergantung pada jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). Jumlah PKP merupakan jumlah penghasilan seseorang setelah dikurangi penghasilan tidak kena pajak (PTKP) sebesar Rp 2.880.000. Tarif pajak pendapatan untuk orang pribadi berkisar antara 5% sampai 35%, tergantung pada jumlah PKP yang diterimanya.

Seringkali orang menghadapi kenyataan bahwa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Kalau demikian, Anda perlu membuat skala prioritas. Untuk memaksimalkan manfaat dari uang yang Anda miliki, sebaiknya Anda membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Penuhi apa yang menjadi kebutuhan dan kendalikan keinginan. Untuk itu Anda membutuhkan anggaran sebagai pedoman bahwa Anda hidup dengan sarana yang ada dan tetap mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Jika Anda mencatat anggaran ini, maka nantinya akan lebih mudah bagi Anda jika mencari pinjaman guna memperoleh pinjaman KPR.

(Jaka E. Cahyono – wartawan dan penulis buku/www.tabloidrumah.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: