8 EKSPRESI EMOSI KHAS BATITA



Masing-masing ekspresi membutuhkan respons berbeda. Apa sajakah itu?

Masa batita adalah periode paling progresif. Ada saja kemajuan yang dialami si kecil setiap hari. Lihat saja, anak bisa berjalan, tumbuh beberapa gigi sekaligus, mulai bicara, tertawa terbahak-bahak, belajar makan sendiri, menolak instruksi, dan juga merajuk. Perkembangan ini meliputi fisik dan emosinya. Namun, tidak semua orangtua siap dengan perkembangan emosional batitanya sehingga sering kali merasa kewalahan.

Mengapa demikian? Karena kunci kesiapan menghadapi perkembangan emosi adalah pemahaman. Inilah yang sering tidak dimiliki orangtua. Ketahuilah, di usia batita anak berkembang ke arah kemandirian. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu. Dukungan dan kesabaran dari orangtua penting untuk membantu anak mencapai tugas perkembangan tersebut. Bila yang diberikan adalah atensi negatif, seperti memarahi, menyalahkan, melarang, dan seterusnya yang berkembang adalah rasa ragu-ragu dan takut, atau sebaliknya. Nah, dengan memahami 8 ekspresi emosi khas batita berikut ini orangtua bisa memberikan respons yang tepat.

Marfuah Panji Astuti. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO: IMAN/nakita

Narasumber:

Evi Sukmaningrum, Psi.,

dari Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta

1. DEMONSTRASI KASIH SAYANG

Anak usia ini senang mengeksplorasi berbagai perasaan menyenangkan yang timbul dari kontak fisik. Coba perhatikan setiap kali orangtua membuka tangan, batita pasti akan berlari menghampiri untuk masuk dalam pelukan orangtunya. Bahkan film untuk batita, Teletubbies, menjadikan adegan ini sebagai tema sentralnya, mereka selalu berseru, “Berpelukan…” setiap kali memulai/selesai melakukan sesuatu.

Contoh sikap:

Batita senang mendapatkan pelukan, ciuman, didekap, disentuh dan sebagainya.

Respons yang tepat:

Orangtua harus menyiapkan diri menyambut ekspresi sayang yang demonstratif ini dengan memberikan respons yang tepat seperti balas menciumnya, mengungkapkan rasa cinta dengan bahasa verbal, mengucapkan terima kasih setelah dicium, dan sebagainya. Jangan ada penolakan, karena batita akan mengingatnya sebagai memori buruk. Umpamanya, anak memeluk orangtua dari belakang, tapi orangtua meresponsnya dengan penolakan, “Aduh, Naura, tangan kamu kotor,” ini respons yang tidak tepat.

2. PERHATIAN SECARA PERSONAL

Batita selalu menuntut perhatian secara personal sebab di usia ini anak sedang berada dalam fase egosentris. Ia ingin semua menjadi miliknya dan hanya untuk dirinya. Sekadar mendapat perhatian sekali atau sambil lalu tentu tak cukup baginya, ia akan berusaha memastikan bahwa orangtua memberikan perhatian padanya.

Contoh sikap:

Minta perhatian saat orangtuanya menelepon sekadar untuk menunjukkan mainan yang sama berkali-kali.

Respons yang tepat:

Berikan perhatian secukupnya. Tunjukkan bahwa orangtua sudah tahu maksudnya dan sekarang sedang mengerjakan hal lain. Kalau ia ingin menunjukkan sesuatu, nanti ada waktunya lagi. “Oh, iya Sayang, bonekanya bagus ya, tapi sekarang Mama telepon dulu. Nanti selesai telepon baru kita main lagi. Sekarang Adek duduk dulu di sini di sebelah Mama.”

3. MOOD GAMPANG BERUBAH

Anak batita sangat moody. Mudah baginya berganti suasana hati dalam waktu sekejap. Di usia ini anak mulai sadar bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dari orangtuanya sehingga segala sesuatunya ingin dilakukan sendiri. Sementara di sisi lain kemampuannya masih sangat terbatas. Dua hal ini sering kali membuat suasana hantinya gampang berubah.

Contoh sikap:

Belum kering airmata karena menangis minta susu, setelah susunya diberikan, ia bisa tertawa geli.

Respons yang tepat:

Selalu bersikap tenang dan senantiasa memberikan jalan keluar atas masalah yang sedang dialaminya. Kenali tangisan anak, misalnya karena lapar dan ingin susu, segera berikan. Dengan demikian ia tak menjadi frustrasi karena keinginannya tidak terpenuhi.

4. CAPER ALIAS CARI PERHATIAN

Ini adalah salah satu ekspresi emosi yang khas dimiliki anak batita. Ia senang sekali “pamer” kemampuan. Pahadal sesuai tahapan perkembangannya, ada saja kemampuan baru yang dikuasainya hampir setiap hari. Jadilah anak terlihat senang cari perhatian alias caper.

Contoh sikap:

Ia sudah bisa makan sendiri, ia akan menunjukkan pada siapa saja yang datang ke rumah akan kebisaannya yang baru ini. Begitu juga saat bisa menggambar sesuatu, mengoperasikan mainan barunya dan sebagainya.

Respons yang tepat:

Siapkan diri untuk menjadi penonton yang baik dan jangan pelit pujian. Asah terus kemampuan anak supaya makin sempurna. Berikan contoh bagaimana melakukan segala sesuatunya dengan benar. Untuk contoh di atas, tunjukkan padanya bagaimana menggenggam sendok dengan benar lalu menyuapkannya ke mulut. Sehingga tak sekadar pujian, tapi makin lama kemampuan makannya makin baik: makin banyak yang masuk ke mulut dan makin sedikit yang berantakan.

5. SUKA MENYENGAJA

Batita suka menyengaja. Ini dilakukan semata-mata untuk melihat repons sekelilingnya. Bisa juga karena anak belum paham risiko dari perbuatannya, tapi mungkin juga anak sekadar menikmati reaksi yang ditampilkan orangtua.

Contoh sikap:

Lantai habis dipel dan masih licin, ia sudah diperingatkan untuk tidak melintasinya, tapi ia malah sengaja mondar-mandir untuk melihat reaksi orangtuanya. Makin heboh reaksi yang ditunjukkan orangtua, makin bersemangatlah ia melakukannya. Tapi mungkin juga anak belum paham kalau melintasi lantai licin risikonya bisa terpeleset dan jatuh.

Respons yang tepat:

Berikan pemahaman dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami anak. Bila perlu, tunjukkan dengan contoh, semisal orangtua pura-pura jatuh dan mengaduh kesakitan. “Aduh, sakit ya jatuh terpeleset.” Orangtua harus mempunyai kesabaran ekstra. Jangan heboh menghadapi kelakuan ini, sebab bisa jadi yang ditunggu anak adalah respons orangtua. Peringatkan dengan lembut namun tegas bila anak masih terus mengulanginya.

6. MELEMPAR SESUATU SAAT MARAH

Di usia ini anak belum bisa mengendalikan emosinya secara sempurna tapi kemampuan motoriknya, terutama melempar benda, sudah bisa dilakukan. Akibatnya saat marah, ia melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Tak hanya di waktu marah, bila ada kesempatan, anak usia ini suka melempar/menjatuh-jatuhkan benda. Hal ini terkait dengan tahapan perkembangan motoriknya. Sementara terkait dengan kemampuan verbalnya, anak belum bisa mengungkapkan apa yang membuatnya marah. Sekali-dua kali ia melempar benda saat marah dan orangtua segera memberikan perhatian, maka tiap kali ia merasakan gejolak emosi yang sama, ia mengulang tindakan tersebut sebagai ungkapan kemarahan.

Contoh sikap:

Anak ingin minum susu, sudah berulang merengek tapi belum juga dibuatkan oleh orangtua, akibatnya anak marah dengan melempar botol susunya.

Respons yang tepat:

Yang dibutuhkan anak adalah contoh bagaimana menyalurkan emosi dengan tepat. Ajarkan padanya untuk menyampaikan keinginannya. Meski kemampuan verbalnya masih terbatas, tapi orangtua bisa membantunya dengan menggunakan bahasa tubuh. Contoh, “Kalau Adek cuma merengek, Mama enggak ngerti maksudnya. Kalau Adek mau susu, berikan saja botol kosong ini ke Mama, nanti Mama buatkan lagi,” sambil tunjukkan bagaimana botol kosong itu diberikan pada orangtua. Selain itu latih anak menyalurkan ekspresi emosi dengan tepat, misalnya menggambar, bernyanyi dan sebagainya.

7. KERAS KEPALA

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, di usia ini anak sedang berada pada fase egosentris. Anak maunya menang sendiri dan keras kepala. Apa yang sudah jadi keinginannya seakan tak terbantahkan. Ini adalah bagian dari perkembangan yang wajar, tiap anak pasti mengalaminya.

Contoh sikap:

Melihat orangtuanya makan sesuatu, anak memaksa meminta. Padahal sudah dijelaskan kalau yang dimakan itu pedas, misalnya, tapi tetap saja ia keras kepala. Begitu diberikan secuil, langsung dilepehnya karena pedas.

Respons yang tepat:

Sesekali biarkan anak merasakan apa yang diinginkannya selama tidak membahayakan, misalnya rasa pedas seperti contoh di atas, dingin, panas, dan sebagainya. Dengan merasakan langsung biasanya anak jadi “kapok”. Selain itu latih terus kemampuannya untuk bersosialisasi, berbagi, mengantre, bergiliran dan sebagainya. Latihan-latihan ini bermanfaat untuk mereduksi keras kepalanya.

8. NARSISME

Anak batita “narsis” mengagumi diri sendiri? Jangan salah, anak usia ini selalu merasa dirinya yang paling baik, pintar, cantik/ganteng, disayang dan sebagainya sehingga ia merasa berhak atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Contoh sikap:

Kalau orangtua memberikan pujian atau menunjukkan ekspresi kekaguman pada kakak/adik/anak lain, ia akan marah sebagai ungkapan rasa cemburu.

Respons yang tepat:

Berikan pujian secara wajar, umpamanya dengan tidak mengatakan, “Wah, anak Mama memang paling ganteng sedunia.” Tunjukkan bahwa di luar dirinya ada juga anak lain yang berhak mendapat pujian. Contoh, “Oh, iya Adek pintar ya, makannya bisa habis. Ini Mas Rangga juga pintar karena makannya juga habis.” Orangtua yang terlalu sering memuji secara berlebihan akan membuat bibit narsisme makin subur dalam diri anak, sehingga dalam jangka panjang bukan tak mungkin membuatnya kesulitan melihat/menerima kelebihan orang lain.

sumber: http://www.tabloid-nakita.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: