Tidak Perlu Membangun Sampai 20 Tahun Lagi


Untuk bisa membangun rumah yang memenuhi kebutuhan kita sampai bertahun-tahun mendatang, beberapa hal harus dipersiapkan dengan matang.
Jajaran not balok di atas baris birama nada terukir di dinding depan rumah beratap beton itu. Pemain musikkah pemiliknya? Ataukah pengusaha sekolah musik? Laksmi Indraswari (35)—pemilik rumah ini ternyata adalah seorang guru musik—tepatnya keyboard. “Rumah harus mencerminkan ciri pemiliknya,” ujar Laksmi, mengutip saran sang kakak, mengenai hiasan not balok tersebut.
Rumah berkesan modern di bilangan Pejaten ini dibangun Laksmi bersama calon suaminya—Jamaludin (39). Ia sendiri sudah lama mengontrak di daerah Pejaten, tidak jauh dari rumah yang sekarang ditempati. Sudah lama pula ia mengincar tanah yang semula adalah lapangan bulu tangkis ini. Sekalipun berada di depan gang yang tidak terlalu lebar, Laksmi cukup puas dengan rumah yang baru selesai dibangun akhir tahun 2003 lalu ini. Ia memang lebih suka tinggal di tengah kota. Pasalnya, perempuan berkulit sawo matang ini paling takut kalau tinggal di perumahan yang letaknya di pinggiran Jakarta, pulang kerja ia harus menyetir sendirian melewati jalan tol. “Saya paling takut lewat jalan tol sendirian, takut ada apa-apa,” jelasnya.
Hal apa yang paling diutamakan saat membangun rumah ini? “Saya pingin membangun rumah yang sampai 20 tahun ke depan, nggak perlu dibangun lagi,” ujarnya dengan tegas. Maksudnya, sampai 20 tahun mendatang—ketika kedua anak hasil perkawinannya terdahulu sudah beranjak dewasa nanti—rumah ini masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa ia perlu merombaknya lagi. Untuk alasan ini pula Laksmi memfokuskan pembangunan rumahnya pada pembuatan struktur, dan sedikit “mengalahkan” interior.
Satu Kamar Siap untuk Jadi Dua
Salah satu persiapan yang dilakukannya adalah membuat satu kamar anak berukuran besar, yang siap untuk “dipecah” menjadi dua. Kamar ini memiliki dua pintu, dan di bagian tengahnya diberikan semacam dinding sekat pendek. Dinding ini berfungsi sebagai pembatas antara ruang untuk anak sulungnya, Adit (9) dan si bontot, Alia (6). Masing-masing ruang memiliki tempat tidur dan meja belajar. Jika pada saatnya nanti mereka sudah berani tidur sendiri, sekat dinding tadi tinggal “dipanjangkan” sehingga menjadi dinding pemisah; dan jadilah dua kamar tidur dengan luas yang sama.
Dari segi bentuk, rumah ini juga siap untuk “diperluas” dengan mudah. Misalnya saja, atap rumah ini dibuat dari beton (tanpa genteng). Lalu dari lantai 2 terdapat tangga pendek menuju sebuah pintu ke arah dak beton. Itu yang membuat rumah ini berkesan tiga lantai. Nah, kalau suatu saat Laksmi membutuhkan ruang tambahan, ia tinggal menambahkan dinding dan atap di atas dak beton tersebut. Diam-diam, menurut Laksmi, si sulung sudah pesan tempat itu untuk dirinya nanti.
Dapur Jangan Gelap
Bagian rumah lainnya yang juga dipersiapkan dengan perhatian khusus adalah dapur. Soalnya Laksmi termasuk penggemar kegiatan masak-memasak. Syarat dapur nomor satu menurut Laksmi adalah jangan gelap. Karena itu dapur dibuat tanpa pintu, dan terbuka ke arah ruang makan. Dari ruang dapur ini juga terdapat jendela ke arah taman kecil di bagian belakang. “Ini jendela warung,” canda Jamal, mengomentari jendela berdaun yang dibuka ke arah atas ini.
Merasa masih kurang terang, Laksmi membuat semacam lubang kecil pada plafon dapur, dan meletakkan glass block di atas lubang itu, yang bisa memasukkan berkas sinar matahari ke dalam dapur. Di sekeliling glass block dibuat lubang kecil tempat asap mencari jalan keluar.
Di rumah ini memang cukup banyak digunakan glass block, sehingga cahaya masuk dari berbagai sudut. Selain itu, paduan warna yang dimainkan oleh Jamal juga membantu terciptanya suasana terang dan cerah. Warna kuning pada tempat hiasan yang menempel pada dinding bata ekspos misalnya, berpadu dengan warna hijau pada dinding di halaman belakang dan bersekawan dengan biru pada dapur.
Duduk-duduk di Atas Lemari Sepatu
Semua warna-warna itu bisa dinikmati jika kita duduk di atas lemari sepatu. Duduk di atas lemari sepatu? Bagaimana bisa?
Begini ceritanyanya. Karena tidak suka dengan bentuk ukiran—kebetulan Laksmi juga alergi terhadap debu sementara ukiran cenderung menyimpan debu—ia dan Jamal lebih memilih bentuk garis sebagai ornamen. Selain diwujudkan dalam bentuk penggunaan horizonal blind kayu sebagai penutup tirai, ornamen garis juga ditampilkan pada daun pintu.
Semua pintu pada rumah ini dibuat dari multipleks, yang ditempeli bilah-bilah kayu kamper bolak-balik alias bagian depan dan belakangnya. Hasilnya sangat elegan sekalipun harganya relatif ekonomis. “Kalau kayu panel harganya mahal, jadi kita buat saja begini,” jelas Jamal.
Nah, karena bilah-bilah kayu kamper ini sisa, lalu dimanfaatkan untuk pintu lemari sepatu. Lemari sepatunya sendiri dibuat dari semen, dan diletakkan di perbatasan antara ruang makan dengan taman belakang. Karena rumah ini terbuka sampai ke belakang—tidak memiliki pintu-belakang—lemari sepatu ini menjadi semacam partisi yang membatasi antara ruang dalam dan ruang luar. Dengan tinggi sekitar 60 cm dan bentuk memanjang, lemari sepatu ini nyaman digunakan untuk tempat duduk-duduk di sore hari, sambil berbincang-bincang. Tempat duduk ini juga nyaman untuk mendengarkan denting piano permainan Laksmi yang mendendangkan lagu Setia dari Jikustik. Aku/masih di sini/tetap setia..
Apakah nanti Laksmi dan keluarganya akan tetap tinggal di sini sampai 20 tahun mendatang atau tidak, tidak masalah. Setidaknya apa yang mereka bayangkan akan mereka butuhkan kelak, saat ini sudah terpenuhi. Tentunya rasa ini bisa menimbulkan ketenangan dalam menjalani hidup.
(dek/www.tabloidrumah.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: