Ekspresi Literer Dunia Autis


Buku "Autistic Journey" (Dok. GATRA)OSCAR Yura Dompas adalah inspirasi bagi penyandang autis. Sebagai seorang yang “berbeda” karena autis, ia berhasil menulis buku. Judulnya, Autistic Journey. Ketika bukunya diluncurkan di Toko Buku QB, Plaza Semanggi, Jakarta, awal April lalu, sambutannya sungguh meriah. Tempat acara terisi penuh. Banyak pengunjung rela berdiri berdesak-desakan. Sebagian adalah orangtua penderita autis.

Buku berbahasa Inggris itu mengungkap kisah hidup Oscar. Tulisannya lugas. Masa kecil dan masa remajanya terbaca tak ubahnya anak lain. Ada teman akrab yang sangat disukainya, ada cinta pertama, dan ada kesenangan bermain khas anak. Namun, laiknya penyandang autis, Oscar tak begitu gampang mengekspresikan perasaan. Sehingga ekspresi yang muncul terasa sangat umum.

Namun, meski tampak biasa, tulisan Oscar adalah lompatan besar bagi seorang penyandang autis. Karena sebelumnya dia sulit mengungkapkan apa yang terbenam di pikiran dan benaknya. “Sekarang sudah lebih baik. Bisa marah kalau diledek, dulu sama sekali nggak bisa,” kata Ira Dompas, ibunda Oscar. Contoh lain, dulu Oscar sama sekali tak peduli ketika barang pribadinya habis.

Kini dari hari ke hari muncul kejutan baru. “Kemarin dia SMS, ‘deodoran saya habis’,” kata Ira. Bagi Ira, perkembangan gradual pada diri Oscar kini adalah “evolusi” yang begitu mengagumkan. Sebelumnya, hampir 20 tahun, Oscar yang kini mahasiswa sastra Inggris Universitas Atma Jaya Jakarta tak tahu dirinya autis. Ketika menginjak usia 20 tahun, barulah Oscar menemukan jati diri.

Sebelum itu, barangkali Oscar sendiri tak merasa dirinya berbeda. Ia beruntung, orangtuanya, Jeffrey dan Ira Dompas, paham bahwa setiap manusia itu unik. Ia pun diterima apa adanya. “Kondisi Oscar bagi saya bukan suatu kekurangan atau sesuatu yang harus diumpetumpetin. Oscar berkembang seperti apa adanya dia,” kata Ira. Sejak kecil, dan dalam hal-hal kecil, keluarganya mencoba memperlakukan Oscar sebagai anak normal.

Ia masuk sekolah biasa. “Jika salah, dia juga dimarahi. Meski mungkin dia tak tahu mengapa, cara normal selalu ditempuh,” ujar Ira. Ketika ada orang bicara dan Oscar ngeloyor pergi, ibunya dengan santai memanggilnya untuk kembali. Singkat kata, Oscar tak diistimewakan karena kondisinya. Namun, tak dimungkiri, ibunya meminta adiknya lebih bersikap sebagai kakak.

“Dik, tolong Kakang diliatin, ya,” pesan Ira seringkali pada Nikita, adik Oscar, ketika mereka jalan-jalan. Kadangkala Nikita protes juga. “Masak aku terus yang ngawasin Kakang,” katanya. Toh, dengan sedikit penjelasan, Nikita luluh. Adik Oscar lain yang berjarak umur 10 tahun juga mengerti bahwa kondisi Oscar berbeda. Kedua adiknya ini tak enggan mengajak Oscar main. Kelompok main mereka masih karib hingga sekarang.

Dalam mengasuh Oscar, Ira dan Jeffrey berbagi peran. Maklum, keduanya bekerja. Ira di kantor hukum dan Jeffrey berwiraswasta. Meskipun ada dukungan keluarga, pasangan itu juga mengalami masa sulit. “Setiap jenjang ada kesulitannya sendiri,” kata Ira. Misalnya ketika Oscar belajar menulis atau berenang. Perlu ketekunan lebih melatihnya. Sering ada rasa sedih melihat kondisi Oscar.

Ira bercerita, saat kecil, Oscar nyelonong ke rumah tetangga dan tetangga protes. “Ada rasa sakit hati, kok tetangga itu nggak mengerti bahwa Oscar beda. Seiring waktu, saya bisa menerima itu,” katanya. Autisme Oscar tergolong jenis high functioning. Perkembangan lain normal, kecuali sosialisasinya. Ketika Oscar lahir, tak ada tanda kelainan pada dirinya.

Tahun pertama, Oscar tumbuh lazimnya bayi sehat. Cuma ada yang beda. “Tidak ada kontak mata,” kata Ira. Perbedaan mencolok tampak ketika usianya dua setengah tahun. “Adiknya mulai tertarik pada orang lain, misalnya cari perhatian. Tapi Oscar tidak,” katanya. Awalnya, Ira mengira Oscar terlalu asyik dengan mainan. Tetapi, dari hari ke hari, Oscar makin tak suka berkumpul.

Pada usia tiga tahun, dokter menyatakan ada minimum brain damages. Keterbatasan informasi membuat mereka tak tahu apa yang terjadi. Oscar pun dibawa ke psikiater yang menyarankan penanganan dengan obat. Tapi mereka mencari pendapat lain. Dokter menyatakan, Oscar hiperaktif dan mesti diberi kegiatan. Pasangan ini percaya intuisi bahwa anaknya bisa lebih baik tanpa obat. “Satu-satunya obat cuma obat asma,” ujarnya.

Sebelum TK, Oscar masuk playgroup. “Normal, kecuali satu. Dia tidak bisa diam,” katanya. Ketika masuk SD, baru terlihat inteligensia Oscar baik, tapi motoriknya sangat lambat. Ia tak bisa menulis meski sudah lancar membaca. Maka, setiap minggu Oscar konsultasi dengan psikolog yang melatih motoriknya. Hanya saja, mereka masih tak tahu bahwa anaknya autis.

Awal 1980-an itu, autisme memang belum dikenal luas. Tak banyak informasi tersedia. Jangankan web, buku atau artikel yang membahas hal ini masih sangat langka. Mereka baru mengetahui soal autis ketika partner Jeffrey, seorang ekspatriat, memutuskan balik ke negaranya karena anaknya autis. Dari situlah Jeffrey menimba ilmu. Mereka pun mulai getol mencari tahu.

Mengetahui sang anak menyandang autis adalah pukulan telak bagi pasangan ini. “Tetapi kami berpegang, dia adalah anugerah. Harus kami perhatikan lebih ekstra,” ujar Ira. Caranya, energi Oscar yang berlebih digunakan sepenuhnya untuk berbagai aktivitas. Dari renang, tenis, taekwondo, hingga bermain di depan komputer. Karena aktivitasnya penuh, Oscar jarang tantrum atau mengamuk.

Masa remaja Oscar termasuk masa sulit yang harus dilalui. Mereka baru tahu dunia Oscar setelah dia menulis buku. Sebelumnya dia tak pernah cerita bahwa ia diganggu. Ketika SMA di Pangudi Luhur, Oscar tak naik kelas. Pasangan ini lantas mengirim Oscar ke Australia supaya mandiri. “Saya antara khawatir dan percaya. Akhirnya saya coba percaya pada anak,” katanya. Di ”negeri kanguru” itu, Oscar menyelesaikan SMA-nya.

Kembali ke Indonesia, Oscar masuk kuliah. Meski begitu, masalah sosialisasi tetap ada. “Dia sangat terstruktur. Bagi dia, yang ada adalah hitam atau putih. Tak ada di antaranya,” kata Ira mencontohkan. Kini Oscar lebih percaya diri. Cita-citanya bekerja di luar negeri usai kuliah makin terang. “Ke sebelah,” kata Oscar menyebut Singapura. “Kini ia pun sudah mulai bisa membedakan mana baik dan buruk,” ujar Ira.

Sebagai ibu anak autis, ia optimistis, Oscar mampu menghadapi dunia orang dewasa. Meski masih dengan kenaifan dan kepolosan anak-anak. “Tak cuma Oscar yang punya keunikan. Setiap orang toh punya masalahnya masing-masing,” kata Ira.

G.A. Guritno dan Heni Kurniasih

Sumber: Gatra.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: