Antibiotika dan Diare


Kejadian Antibiotic Associated Diarrhea pada pasien rawat inap mencapai 31 persen.
Tak selamanya antibiotika bermanfaat. Jika salah dalam penggunaannya, bisa-bisa malah menyebabkan gangguan dalam tubuh. Misalnya, pasien yang menderita diare sering kali diberi antibiotika oleh dokter. Padahal, hanya sedikit diare yang memerlukan antibiotika karena hampir sebagian besar diare disebabkan oleh virus.

Justru, pemberian antibiotika yang tidak rasional menjadi penyebab diare. Karena penggunaan antibiotika tidak rasional dapat mengganggu keseimbangan mikroflora dalam usus, sehingga menyebabkan Antibiotic Associated Diarrhea (AAD).

Hal itu dikemukakan prof Srisupar Yati Soenarto pada jumpa pers di kediamannya usai dikukuhkan menjadi Guru Besar pada Fakultas Kedokteran UGM, Rabu (18/6). ”Dalam penelitian kami dengan mahasiswa, diketahui penggunaan antibiotika tidak rasional diare cair akut di rumah sakit nonpendidikan hampir 100 persen. Sedangkan di rumah sakit pendidikan hanya 18 persen,”ungkap dia.

Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh stafnya, dokter spesialis anak Wahyu Damayanti, menunjukkan kejadian AAD pada pasien rawat inap mencapai 31 persen. Kaitan antara antibiotik dan diare, jelas Damayanti, antibiotik ini akan membunuh kuman-kuman di saluran cerna. Sementara, kuman di saluran cerna itu ada yang bersifat baik dan jahat.

Kuman yang bersifat baik itu bisa menjaga kesehatan saluran cerna, sehingga jika diberi antibiotika kuman yang baik juga akan mati, sehingga terjadi ketidakseimbangan mikroflora. Jadi, kuman yang jahat akan berkembang lebih banyak dan lebih dominan daripada kuman yang baik, sehingga mengakibatkan diare.

Prof Yati mengatakan, sering kali pasien mengira diare itu sembuhnya karena antibiotika. Padahal, tanpa diberi antibiotika diare bisa sembuh. ”Kami sudah membuktikan satu kelompok penderita diare diberi antibiotika dan satu kelompok penderita diare tidak diberi antibiotika,” jelasnya.

Ternyata, ungkapnya, pasien yang tanpa diberi antibiotika juga sembuh, karena penyebabnya virus. ”Pasien yang diare baru minum antibiotika dua hari lalu sembuh, biasanya langsung berhenti minum antibiotika. Hal ini mengakibatkan kuman resisten atau kebal,” papar prof Yati yang spesialis anak ini.

Dalam pindato pengukuhannya Prof Yati mengungkapkan bahwa sejak tahun 1950 hingga sekarang dilaporkan banyak tersistensi terhadap antibiotika. Contohnya, penelitian Litbangkes di lima rumah sakit (di antaranya RS Dr Sardjito) dan lima puskesmas pada tahun 2005-2007. Penelitian menunjukkan Shigella sonnei dan Shigella flexneri resisten lebih dari 70 persen terhadap kotrimoksasol, tetrasiklin, dan penisilin. Sedangkan Salmonella lebih dari 70 persen resisten terhadap penisilin. Shigella menimbulkan polemik dalam kebijakan terapi diare di Indonesia.

Saat ini WHO merekomendasikan siprofloksasin untuk menggantikan kotrimoksasol karena banyak ditemukan resistensi Shigella terhadap kotromoksasol. Tetapi, siprofloksasin memberi efek chondrotoxic, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tulang anak. ”Bahkan bila anak-anak sering diberi antibiotika penulangannya terganggu sehingga akan kunthet (tidak bisa tumbuh besar).”kata dia.

Kalau anak-anak diberi antibiotika setahun sampai empat kali misalnya batuk diberi antibiotik, diare diberi antibiotik, panas diberi antibiotik, pilek diberi antibiotik, maka akan sangat mengganggu pertumbuhan tulang.

Lebih lanjut Prof Yati mengatakan, selama 40 tahun ia selalu konsisten meneliti diare karena selain diare merupakan suatu penyakit yang berdiri sendiri, diare dapat merupakan bagian dari kumpulan gejala (sindrom) berbagai penyakit infeksi di luar saluran cerna (telinga, otak, radang otak, paru, dll. Di samping itu diare merupakan penyakit anak dengan beban kesakitan, kematian, maupun biaya yang tinggi. Diare masih menjadi nomor satu atau dua penyebab kematian pada balita di Indonesia.

Karena itu, ia menambahkan, diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang penyelesaiannya perlu memanfaatkan penelitian translasional secara sistemik dan terintegrasi. Jadi penelitiannya harus dilakukan kerja sama antara para ahli klinikal dengan para ahli ilmu dasar, dan dengan prinsip evidence based policy (kebijakan berbasis bukti) dan menjadi kebijakan.

”Jadi, yang perlu dilakukan apabila seseorang diare adalah diberi oralit supaya tidak dehidrasi,” paparnya. Selain itu, melanjutkan pemberian makan dan pemberian zinc sehari sekali dengan dosis 10 mg untuk anak di bawah usia enam bulan dan 20 mg untuk anak di atas enam bulan selama 10 hari karena akan lebih mempercepat penyembuhan sepertiga kali.

(nri )

Sumber: Gizi.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: