Dicari: Pemimpin Gak Wajar


Tidak semua sifat kekanak-kanakan bisa otomatis hilang begitu seseorang menginjak usia dewasa. Ada saja sifat-sifat kekanak-kanakan dalam diri manusia yang akan terus hidup sepanjang hidupnya.

Seperti juga hari ini. Istriku sepulang dari kantornya bilang, “Aku males masak malam ini. Tolong nitip dibeliin nasi gorengnya Pak Slamet.” Kata-kata istriku itu bak permen lollipop yang ditawarkan ke anak ingusan. Namun, sebelum aku loncat-loncat kegirangan, aku tersadar bahwa sebagai suami aku harus perhatian pada istriku.

Dengan kening berkerut aku bertanya dengan lembut, “Kenapa Hwa? Sakit?”

Mata Mei Hwa melirikku seraya ia menghempaskan dirinya di sofa. Ia kemudian berkata, “Nggak sakit kok. Cuma kalau dipikir-pikir lagi mungkin lima menit lagi aku bakalan berubah pikiran dan mulai masak di dapur.”

Aku langsung mengambil dompetku dan pergi berjalan menuju warung Pak Slamet.

Dari jauh aku langsung melihat suatu pemandangan yang terasa sedikit aneh buatku. Warung Pak Slamet yang biasanya dipenuhi oleh bapak-bapak, sekarang sedang dikerumuni oleh para ibu. Namun ternyata dugaanku salah. Semakin mendekat aku berjalan ke warung Pak Slamet, semakin jelas juga bahwa yang berkerumun itu bukan ibu-ibu, melainkan segerombolan waria.

Aku langsung melihat si Betet alias Teddy alias Mbak Tetty di antara mereka. Betet adalah tokoh waria di kampung kami dan dia termasuk aktivis Gabungan Komunitas Waria Jakarta Raya (GakWaJar). Terlihat olehku juga si Aan, hansip kampung kami sedang berdiri di dekat warung tersebut. Ia kemudian mendampingiku masuk ke warung Pak Slamet.

“Lagi ngobrolin masalah krisis kepemimpinan di organisasi kami,” begitu jawab Betet ketika kutanya tentang acara kumpul-kumpul ini.

“Kenapa? Ada yang balik normal?” seloroh Aan. Para waria langsung melirikkan matanya ke si Aan. Sepasang bakiak sudah dilepaskan oleh salah seorang waria. Aan pun antara reflek dan kesadarannya langsung mengambil kuda-kuda dengan memegang pentungannya. Situasipun menjadi riuh.

Aku kemudian mencoba menenangkan suasana. Untungnya si Betet juga berkehendak yang sama dengan diriku sehingga bakiak terbang bisa dihindarkan.

“Ada masalah kepemimpinan apa di GakWaJar sekarang?” tanyaku pada Betet.

“Sekarang kita-kita lagi bingung nih Mas,” jawab Betet, “Gara-gara anggotanya semakin banyak, sekarang muncul beberapa orang yang rebutan untuk jadi pemimpin GakWaJar.”

“Bukannya itu pertanda yang baik buat GakWaJar?” komentarku.

“Pertanda baik gimana mas?” tanya Betet balik.

“Iya, kan kalau ada beberapa orang yang mengejar kursi pemimpin berarti ada kompetisi di dalam organisasi,” jawabku, “Kalau ada kompetisi berarti kan nanti siapa pun yang menang memang dia yang paling jago diantara semuanya. Bukannya itu hal yang paling positif buat GakWaJar?”

“Wahduh mas, kita ini dulu bikin GakWaJar sebagai sarana urun-rembug, bukan sarana kompetisi,” kata Betet.

“Iya lah yauw, pan ini buat acara ngumpul-ngumpul aja,” ujar seorang waria yang ber-eye-shadow biru tebal. Dari suaranya aku cuma bisa menerka kalau bukan gaya bicaranya demikian maka ia pasti sedang terjangkit sinus.

“Yah, namanya juga organisasinya berkembang, ya pasti mengalami hal kayak beginian,” kataku, “Jangan menganggap kompetisi itu tabu, yang penting semua dilaksanakan secara fair.”

“Itu dia yang jadi pokok masalahnya, mas,” sahut Betet, “Mau nggak mau sekarang kita mesti menerima apa yang disebut kompetisi. Tapi kompetisi ini justru memecah belah kita semua. Begitu ada yang kalah untuk jadi pemimpin, pihak ini kemudian diam-diam keluar dari organisasi dan buat grup baru lagi. Sekarang sudah ada Reformasi GakWaJar, Perjuangan GakWaJar, dan Asli GakWaJar. Paling berapa sih jumlah waria di Jakarta? Sudah nggak banyak masih terpecah-pecah lagi.”

“Lha kalau sudah banyak anggota yang jadi pemimpin, kenapa kok bilangnya krisis kepemimpinan?” tanyaku.

“Karena belum ada satupun yang benar-benar menunjukkan untuk bisa memimpin,” jawab Betet, “Semuanya masih seperti anak kecil. Nyari simpatisan kemudian bikin gang sendiri.”

“Terus pemimpin yang gimana yang dicari sekarang?”

“Pemimpin GakWaJar yang dicari adalah pemimpin yang bukan cuma bisa pidato tok. Yang bukan cuma bisa bikin gang untuk golongannya sendiri yang setuju akan idenya. Tapi pemimpin yang setidaknya sekarang bisa menyatukan kembali semua cabang-cabang GakWaJar tadi. Jadi, dicari pemimpin yang bukan cuma bisa ngomong, tapi yang bisa melakukan sesuatu.”

“Wahduh, rasanya lebih gampang kalau kalian semua punya satu ide yang sama untuk tetap bersatu sebagai GakWaJar,” aku menanggapi ucapan si Betet.

“Iya, tapi kalau begitu bakalan makan lebih banyak waktu lagi,” kata Betet, “Mana sekarang sudah pecah belah lagi.”

“Lho, kalian kan sudah kenal satu orang yang semua anggota GakWaJar punya ide yang sama?”

“Siapa?” tanya beberapa waria itu hampir bersamaan.

“Tuh, si Aan,” jawabku enteng, “Kan tiap kali kalian ketemu mesti hampir ada bakiak melayang.”

Aan hanya melirikku tajam sejenak, kemudian secara perlahan ia berjalan menjauhi warung Pak Slamet. Suara riuh tawa waria mendampingi setiap langkah Aan. (RO/IM)

sumber: http://www.indonesiamedia.com/2001/wkp/wkp-18.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: